“KEPMEN ESDM No.157/2026 bukan sekadar dokumen administratif kaku dari pusat, melainkan tamparan keras bagi Pemda Morowali. Ini bukti nyata keterlibatan Pemda dalam dosa pembiaran!,”_Ikhtiar.

 

IP2MM soroti KEPMEN ESDM Nomor 157/2026 yang mengatur Penetapan Daerah Penghasil dan Daerah Pengolah Sumber Daya Alam Mineral dan Batubara Tahun 2026. Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Morowali (IP2MM) Kota Palu, Ikhtiar, menilai regulasi tersebut membawa persoalan serius bagi posisi Morowali dalam peta hilirisasi nikel nasional.

Menurut Ikhtiar, terbitnya KEPMEN ESDM Nomor 157/2026 menunjukkan lemahnya perjuangan Pemerintah Daerah Morowali dalam mengawal kepentingan fiskal daerah.

Ia melihat status Morowali sebagai pusat industri nikel nasional membutuhkan penguatan diplomasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Sorotan tersebut muncul karena Morowali selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah strategis dalam pengembangan industri pengolahan nikel.

Kawasan industri besar seperti PT IMIP menjadi simbol ekspansi hilirisasi mineral Indonesia.

Namun, menurut IP2MM Kota Palu, posisi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pengakuan fiskal bagi daerah.

IP2MM Soroti KEPMEN ESDM 157/2026 dan Posisi Morowali dalam Hilirisasi Nikel

Ikhtiar menilai KEPMEN ESDM 157/2026 bukan sekadar regulasi administratif. Menurutnya, keputusan tersebut berkaitan langsung dengan masa depan kemampuan daerah dalam mengelola manfaat ekonomi dari aktivitas industri.

“KEPMEN ESDM No.157/2026 bukan sekadar dokumen administratif kaku dari pusat, melainkan tamparan keras bagi Pemda Morowali. Ini bukti nyata keterlibatan Pemda dalam dosa pembiaran! Bagaimana mungkin Morowali jantung hilirisasi nikel nasional yang menggembar gemborkan kawasan industri raksasa seperti PT IMIP bisa diamputasi dan dieliminasi dari daftar Daerah Pengolah. Ini bukan hanya kelalaian, tetapi bentuk ketidakmampuan, ketiadaan taji, dan sikap oportunis Pemda yang gagap mengawal hak fundamental rakyatnya di tingkat nasional!,” ucap Ikhtiar, Sabtu 8 Agustus 2026 dalam pernyataannya.

Pernyataan tersebut menggambarkan kekhawatiran mahasiswa dan pemuda Morowali terhadap arah kebijakan fiskal daerah.

Sebab, status daerah penghasil maupun pengolah sumber daya alam dapat berhubungan dengan mekanisme penerimaan daerah.

Selain itu, keputusan tersebut juga berkaitan dengan kemampuan pemerintah daerah membiayai pembangunan publik.

Dampak Fiskal dan Tantangan Pembangunan Daerah

IP2MM menilai persoalan KEPMEN ESDM 157/2026 tidak hanya berbicara mengenai administrasi pemerintahan. Lebih jauh, isu tersebut menyentuh aspek keadilan pembangunan.

Morowali menghadapi tantangan besar sebagai wilayah industri. Pertumbuhan kawasan tambang dan pengolahan nikel membawa peluang ekonomi.

Namun, pertumbuhan tersebut juga menghadirkan kebutuhan pelayanan publik yang semakin besar.

Pertambahan penduduk, kebutuhan infrastruktur, tekanan lingkungan, serta peningkatan kebutuhan sosial menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah daerah.

Ikhtiar menyoroti bahwa masyarakat harus mendapatkan manfaat nyata dari aktivitas industri.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu memastikan keberadaan industri memberikan dampak jangka panjang. Bukan hanya menghadirkan angka pertumbuhan ekonomi.

“Pemda Morowali selama ini hanya sibuk memamerkan angka pertumbuhan ekonomi semu di atas kertas dan menjadi karpet merah bagi investor, tetapi ompong dan penakut saat memperjuangkan hak fiskal daerah.” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi kritik terhadap strategi pembangunan yang menurut IP2MM terlalu berorientasi pada investasi.

Morowali Membutuhkan Strategi Diplomasi Fiskal yang Lebih Kuat

Persoalan utama yang muncul dari polemik ini adalah bagaimana pemerintah daerah memperkuat posisi tawar.

Sebab, daerah penghasil sumber daya alam menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara investasi dan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, pemerintah daerah perlu membuka ruang evaluasi. Selain itu, pemerintah juga perlu membangun komunikasi intensif dengan pemerintah pusat.

Langkah tersebut penting agar kepentingan daerah dapat masuk dalam setiap pembahasan kebijakan nasional.

Di sisi lain, masyarakat juga membutuhkan informasi yang transparan mengenai dampak KEPMEN  ESDM 157/2026.

Keterbukaan tersebut dapat membantu publik memahami konsekuensi kebijakan terhadap pembangunan daerah.

Baca juga: Hari Hutan Indonesia 2026, Pulihkan Hutan, Pulihkan Kehidupan 

Risiko Jika Persoalan Fiskal Tidak Segera Mendapat Solusi

IP2MM mengingatkan bahwa ketidakseimbangan antara aktivitas industri dan kapasitas daerah dapat menciptakan persoalan baru.

Daerah bisa menghadapi tekanan lingkungan dan sosial tanpa dukungan fiskal yang memadai.

Selain itu, masyarakat berisiko kehilangan kesempatan menikmati manfaat ekonomi dari kekayaan alam daerahnya sendiri.

Ikhtiar juga menyoroti kondisi masyarakat yang menghadapi dampak industri.

“Setiap hari rakyat Morowali dipaksa memakan debu industri, menghirup udara tercemar emisi PLTU batu bara, menyaksikan pesisir dan wilayah tangkap nelayan rusak, serta menanggung bobroknya jalan infrastruktur dan krisis layanan publik akibat lonjakan demografi.” bebernya.

Karena itu, IP2MM mendorong pemerintah daerah mengambil langkah strategis.

Pemerintah daerah perlu memperjuangkan kepentingan Morowali melalui jalur kebijakan yang konstruktif.

Perkuat Data, Advokasi, dan Kolaborasi Daerah

Polemik KEPMEN ESDM 157/2026 membutuhkan respons berbasis data. Pemerintah daerah perlu menyusun kajian mengenai dampak ekonomi, sosial, dan fiskal.

Selanjutnya, pemerintah dapat membawa kajian tersebut dalam komunikasi dengan pemerintah pusat.

Selain itu, keterlibatan masyarakat, akademisi, dan kelompok pemuda menjadi bagian penting dalam pengawasan kebijakan.

Kolaborasi berbagai pihak dapat menghasilkan solusi yang lebih kuat. Dengan demikian, pembangunan industri tetap berjalan. Namun, manfaatnya juga dapat kembali kepada masyarakat Morowali.

IP2MM soroti KEPMEN ESDM 157/2026 karena menilai regulasi tersebut berkaitan dengan posisi Morowali dalam mendapatkan manfaat dari industri nikel.

Kritik IP2MM menyoroti pentingnya diplomasi fiskal, transparansi kebijakan, dan keberpihakan terhadap masyarakat.

Pada akhirnya, tantangan terbesar Morowali bukan hanya mempertahankan investasi.

Lebih dari itu, Morowali perlu memastikan hilirisasi nikel menghasilkan keadilan pembangunan bagi generasi saat ini dan masa depan.

Simak juga: Suatu Hari di Lampeseka