“Yang namanya memperbaiki itu pasti ada riaknya, itu namanya bermasyarakat. Kita hanya mempercantik itu menjelang Porprov. Saya hanya punya niat adalah membangun Morowali ini ke depan,”_Iksan Baharudin Abdul Rauf.
PEMBONGKARAN tugu Bundaran Bahomohoni menjadi perhatian karena menyentuh identitas ruang publik Morowali. Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf memastikan pemerintah tetap mempertahankan Tugu Adipura sebagai ikon daerah.
“Pembongkaran itu tidak akan menghilangkan Tugu Adipura itu. Tugu Adipura itu tidak boleh dihilangkan karena itu ikon kita, cuma kita percantik, jadi ada inovasi,” kata Iksan usai ucapara HUT ke 81 di Alun-alun Rumah Jabatan Bupati Morowali, Senin 17 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut memberi arah penting terhadap perubahan dan penataan. Pemerintah tidak sekadar mengejar bentuk baru.
Sebaliknya, pemerintah ingin memadukan pembenahan fisik dengan identitas yang sudah masyarakat kenal.
Baca juga: Rapat Paripurna DPRD Morowali, Putra Bonewa Kembali Kritik Keras Bupati
Mengapa Pembongkaran Tugu Bundaran Bahomohoni Memicu Perhatian?
Sebuah tugu sering memiliki makna lebih besar daripada ukuran fisiknya. Masyarakat dapat menggunakannya sebagai penanda lokasi.
Selain itu, tugu dapat menyimpan ingatan tentang perkembangan sebuah kota. Karena itu, perubahan bentuk ruang publik mudah memunculkan respons masyarakat.
Tugu Adipura memiliki posisi khusus dalam konteks tersebut. Ikon itu menjadi salah satu penanda Morowali sejak 2023.
Karena itu, rencana mempercantik kota membutuhkan komunikasi publik yang jelas. Masyarakat perlu mengetahui tujuan, konsep, manfaat, serta arah akhirnya.
Langkah tersebut penting untuk mencegah munculnya persepsi bahwa pemerintah sekadar mengganti bangunan lama.
Pemerintah juga perlu menunjukkan hubungan antara desain baru dan identitas Morowali. Dengan begitu, inovasi tidak kehilangan karakter lokal.
Wajah Morowali dan Ambisi Menyambut Porprov
Penataan Bahomohoni juga berkaitan dengan agenda Morowali menyambut Pekan Olahraga Provinsi atau Porprov.
Ajang tersebut akan membawa masyarakat dari berbagai daerah ke Morowali. Karena itu, ruang publik ikut membentuk kesan pertama terhadap tuan rumah.
Kawasan kota tentu membutuhkan tampilan yang representatif. Namun, kebutuhan tersebut tidak berhenti pada persoalan estetika.
Ruang publik juga harus nyaman, aman, mudah diakses, dan memiliki fungsi yang jelas. Dengan demikian, pembangunan memberi manfaat setelah Porprov berakhir.
Di sinilah pemerintah menghadapi tantangan yang lebih besar. Penataan jangan hanya mengejar tampilan menjelang acara.
Sebaliknya, pembangunan harus menciptakan ruang yang tetap berguna bagi warga dalam jangka panjang.
Risiko Ketika Identitas Kota Berubah
Perubahan fisik selalu membawa risiko. Salah satunya muncul ketika pembangunan mengabaikan memori masyarakat.
Tugu yang masyarakat kenal dapat menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari. Anak-anak tumbuh dengan melihatnya.
Pengendara juga menggunakan tugu sebagai penanda arah. Masyarakat bahkan dapat mengaitkannya dengan berbagai peristiwa.
Karena itu, perubahan membutuhkan keseimbangan antara inovasi dan kesinambungan. Pemerintah dapat mengubah desain tanpa menghapus simbol penting.
Pilihan tersebut juga dapat memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap ruang publik. Warga akan melihat pembangunan sebagai penyempurnaan, bukan penghapusan.
Sebagai Bupati Morowali, Iksan memahami bahwa perubahan tidak selalu berjalan tanpa perdebatan.
“Yang namanya memperbaiki itu pasti ada riaknya, itu namanya bermasyarakat. Kita hanya mempercantik itu menjelang Porprov. Saya hanya punya niat adalah membangun Morowali ini ke depan,” ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah menyadari munculnya perbedaan pandangan. Namun, pemerintah tetap menempatkan pembangunan sebagai tujuan utama.
Apa yang Perlu Pemerintah Pastikan?
Penataan membutuhkan lebih dari sekadar desain menarik. Pemerintah perlu memastikan sejumlah aspek berjalan bersamaan.
Pertama, desain baru harus mempertahankan unsur identitas Morowali. Kedua, pembangunan harus memperhatikan keselamatan pengguna jalan.
Ketiga, penataan perlu mendukung aktivitas masyarakat. Keempat, pemerintah perlu menjaga kualitas pekerjaan agar investasi publik menghasilkan manfaat panjang.
Selain itu, transparansi juga memiliki peran penting. Pemerintah dapat menjelaskan konsep pembangunan kepada masyarakat secara terbuka.
Informasi tersebut dapat mencakup alasan perubahan, desain, fungsi, serta target penyelesaian. Komunikasi seperti ini membantu mengurangi ruang bagi spekulasi.
Lebih jauh, masyarakat dapat memberikan masukan sebelum pembangunan mencapai tahap akhir. Proses tersebut menciptakan hubungan yang lebih sehat antara pemerintah dan warga.
Pembongkaran Tugu Bundaran Bahomohoni Harus Menghasilkan Nilai Tambah
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan sekadar tampilan baru. Pemerintah perlu menunjukkan nilai tambah yang masyarakat rasakan.
Ruang publik harus menjadi lebih nyaman. Lingkungan juga harus terlihat lebih tertata.
Pada saat yang sama, identitas Morowali harus tetap terasa. Inilah tantangan utama penataan Bahomohoni.
Iksan meminta masyarakat menunggu hasil akhir sebelum memberikan penilaian menyeluruh.
“Kami kembali kepada niat kita yang memberikan yang terbaik untuk masyarakat. Artinya kan sekarang belum selesai, nanti kalau sudah selesai kan baru bisa dilihat,” seru Iksan.
Pernyataan tersebut membuka ruang evaluasi berbasis hasil. Masyarakat nantinya dapat menilai apakah perubahan benar-benar menjawab kebutuhan kota.
Dengan demikian, pembongkaran tidak berhenti pada pergantian bentuk. Proses itu harus menghasilkan ruang publik yang lebih baik.
Menjaga Ikon, Membenahi Kota
Penataan kota pada dasarnya membutuhkan keseimbangan. Pemerintah harus berani melakukan perubahan ketika ruang publik membutuhkan pembenahan.
Namun, keberanian tersebut harus berjalan bersama penghormatan terhadap identitas lokal. Kota tidak perlu mempertahankan semua bentuk lama.
Sebaliknya, kota juga tidak perlu menghapus semua simbol yang sudah melekat. Pemerintah dapat memilih bagian yang bernilai dan mengembangkannya.
Prinsip itu sejalan dengan pernyataan Iksan mengenai arah pembangunan Morowali.
“Saya masih memakai tagline, yang baik saya lanjutkan, yang tidak baik saya benahi,” tutupnya.
Kesimpulannya, pembongkaran tugu Bundaran Bahomohoni tidak semestinya hanya dipandang sebagai proyek fisik.
Proses tersebut menyangkut identitas, estetika, fungsi ruang, dan kesiapan Morowali menyambut Porprov. Pemerintah perlu memastikan perubahan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Tugu Adipura tetap menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Ikon itu dapat mengikuti inovasi tanpa kehilangan makna.
Pada akhirnya, kota yang baik bukan sekadar kota yang tampak baru. Kota yang baik mampu menjaga ingatan, memperbaiki kekurangan, dan menyiapkan ruang yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

