“Hutan merupakan penyangga utama kehidupan. Dari hutan mengalir sumber air yang menghidupi masyarakat, tumbuh keanekaragaman hayati yang menjadi kekayaan Indonesia, serta tersimpan cadangan karbon yang berperan penting mengendalikan laju perubahan iklim. Karena itu, setiap kerusakan hutan sesungguhnya merupakan ancaman langsung terhadap keberlanjutan kehidupan manusia, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan,”_Asfar

 

MOMENTUM Hari Hutan Indonesia harus menjadi titik balik untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa kelestarian hutan menentukan masa depan Indonesia. Pesan tersebut disampaikan Ketua DPD PAN Morowali, Asfar, S.E.

“Menjaga hutan bukan hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan kewajiban moral seluruh elemen bangsa karena kehidupan manusia bergantung pada keberlanjutan ekosistem yang sehat,” ucap Asfar, Jumat 7 Agustus 2026, bertepatan dengan Hari Hutan Indonesia 2026.

Asfar menilai Hari Hutan Indonesia memiliki makna yang sangat relevan dengan tantangan lingkungan saat ini. Indonesia masih menghadapi tekanan terhadap kawasan hutan akibat perubahan tata guna lahan, kebakaran, aktivitas ilegal, hingga dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, seluruh pihak perlu mengubah cara pandang terhadap hutan, bukan sekadar sebagai sumber ekonomi, tetapi sebagai fondasi kehidupan.

Mengapa Momentum Hari Hutan Indonesia Sangat Penting?

Hutan memiliki fungsi yang jauh melampaui nilai kayu maupun hasil hutan lainnya. Kawasan hutan menjaga ketersediaan air bersih, melindungi tanah dari erosi, menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna, serta menyerap karbon yang membantu mengurangi dampak pemanasan global.

Selain itu, keberadaan hutan juga menopang kehidupan masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada hasil hutan secara berkelanjutan. Karena itu, setiap kerusakan hutan akan memunculkan dampak berantai terhadap ekonomi, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat.

“Hutan merupakan penyangga utama kehidupan. Dari hutan mengalir sumber air yang menghidupi masyarakat, tumbuh keanekaragaman hayati yang menjadi kekayaan Indonesia, serta tersimpan cadangan karbon yang berperan penting mengendalikan laju perubahan iklim. Karena itu, setiap kerusakan hutan sesungguhnya merupakan ancaman langsung terhadap keberlanjutan kehidupan manusia, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan,” ujar Asfar.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian hutan bukan lagi isu lingkungan semata. Sebaliknya, pelestarian hutan telah menjadi bagian penting dari pembangunan berkelanjutan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Baca juga: Politisi PAN Morowali Apresiasi Enam Perda Baru

Momentum Hari Hutan Indonesia Perlu Selaras dengan Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan ekonomi tetap memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, pembangunan harus berjalan seimbang dengan perlindungan lingkungan.

“Investasi, pembangunan infrastruktur, dan pemanfaatan sumber daya alam tidak boleh mengorbankan fungsi ekologis hutan. Sebaliknya, seluruh proses pembangunan perlu mengedepankan prinsip keberlanjutan agar manfaat ekonomi dapat berlangsung dalam jangka panjang,” beber Asfar.

Apabila keseimbangan tersebut terabaikan, berbagai risiko akan muncul. Banjir menjadi lebih sering terjadi. Krisis air bersih semakin meluas. Lahan produktif mengalami degradasi. Bahkan, perubahan iklim akan semakin memperbesar ancaman terhadap sektor pertanian, kesehatan, serta ketahanan pangan nasional.

Karena itu, pembangunan yang bertanggung jawab selalu menempatkan perlindungan lingkungan sebagai bagian dari strategi utama, bukan sebagai pelengkap.

Regulasi Sudah Lengkap, Konsistensi Menjadi Tantangan

Indonesia telah memiliki berbagai regulasi yang mengatur perlindungan hutan dan lingkungan hidup. Di antaranya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2019, serta Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan.

“Tantangan terbesar bukan lagi penyusunan aturan baru. Sebaliknya, tantangan utama terletak pada pelaksanaan regulasi secara konsisten, transparan, dan berkeadilan,” kata Asfar.

Penegakan hukum yang konsisten akan memberikan kepastian bagi seluruh pihak. Di sisi lain, pengawasan yang efektif mampu mencegah kerusakan hutan sejak dini. Karena itu, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, masyarakat, dan organisasi lingkungan menjadi sangat penting.

Dunia Usaha Memiliki Peran Strategis

Pelestarian hutan membutuhkan keterlibatan sektor usaha. Perusahaan yang beroperasi di sekitar kawasan hutan memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kegiatan sesuai ketentuan lingkungan.

“Saya meminta sekiranya, seluruh perusahaan yang ada, khususnya perusahaan tambang, agar menjadikan perlindungan lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas bisnis,” tegas Asfar.

Pelaksanaan reklamasi, rehabilitasi lahan, penghijauan, serta kepatuhan terhadap seluruh regulasi lingkungan perlu menjadi komitmen nyata. Langkah tersebut tidak hanya menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap dunia usaha.

Praktik bisnis yang bertanggung jawab akan menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian alam.

Langkah Sederhana Memberikan Dampak Besar

Pelestarian hutan tidak selalu dimulai dari program berskala besar. Sebaliknya, perubahan dapat tumbuh melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Menanam pohon menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata. Selain itu, masyarakat dapat menghindari pembakaran lahan, mengurangi eksploitasi sumber daya secara berlebihan, serta mengedukasi generasi muda mengenai pentingnya konservasi.

Langkah kecil tersebut akan menghasilkan dampak besar apabila dilakukan bersama oleh seluruh lapisan masyarakat.

Kesadaran kolektif inilah yang menjadi esensi momentum Hari Hutan Indonesia. Semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap lingkungan, semakin besar peluang Indonesia mempertahankan kualitas hutan untuk masa depan.

“Pada Hari Hutan Indonesia 2026 ini, saya mengajak semua pihak menjadikan kecintaan terhadap hutan sebagai budaya. Jangan mewariskan hutan yang rusak kepada anak cucu kita. Sebaliknya, mari kita wariskan hutan yang tetap hijau, lestari, dan mampu menjadi sumber kehidupan bagi generasi masa depan. Ketika kita memulihkan hutan, sesungguhnya kita sedang memulihkan harapan, menjaga keseimbangan alam, dan memastikan Indonesia tetap memiliki masa depan yang berkelanjutan.” pungkas Asfar.

Momentum Hari Hutan Indonesia menjadi pengingat bahwa kelestarian hutan merupakan tanggung jawab bersama. Hutan menyediakan air, menjaga keanekaragaman hayati, menyerap karbon, dan menopang kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, pembangunan harus selalu berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Regulasi yang telah tersedia perlu diterapkan secara konsisten.

Dunia usaha harus menjalankan tanggung jawab lingkungan secara nyata. Masyarakat pun dapat berkontribusi melalui tindakan sederhana yang berkelanjutan.

Dengan menjadikan momentum Hari Hutan Indonesia sebagai budaya kepedulian bersama, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mewariskan hutan yang hijau, lestari, dan produktif bagi generasi mendatang.

Simak juga: Selalu Ada Harapan