PASCA KERUSUHAN di Matarape, Kecamatan Sombori, Pemerintah Kabupaten Morowali, masyarakat Desa Matarape, dan pihak perusahaan mulai menemukan titik temu untuk meredakan ketegangan sekaligus memperbaiki hubungan yang sempat terganggu akibat insiden beberapa waktu lalu.

Titik temu itu muncul dalam pertemuan lanjutan di Desa Matarape, Sabtu 17 Oktober 2026. Forum tersebut menindaklanjuti pertemuan yang sebelumnya dipimpin Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf pada 8 Oktober 2026.

Pertemuan kali ini mempertemukan berbagai unsur. Hadir Forkopimda Morowali, perwakilan DPRD, pemerintah daerah, masyarakat Desa Matarape, serta pihak perusahaan.

Forum tersebut menjadi penting karena penyelesaian konflik tidak cukup hanya dengan meredakan ketegangan. Lebih jauh, semua pihak membutuhkan mekanisme yang jelas agar kesepakatan benar-benar berjalan.

Pasca Kerusuhan di Matarape, Komunikasi Jadi Kunci

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabupaten Morowali, Tahir, yang mewakili Bupati Morowali, menyebut pertemuan berjalan sesuai harapan.

“Alhamdulillah, hari ini semua berjalan sesuai rencana dan harapan kita semua. Poin-poin tuntutan masyarakat juga menjadi hal yang diaminkan oleh perusahaan,” ujar Tahir.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya ruang kompromi antara kepentingan masyarakat dan kebutuhan perusahaan. Namun, kesepakatan akan memiliki arti lebih besar jika setiap pihak menjalankan poin yang sudah mereka sepakati.

Tahir karena itu menekankan pentingnya pelaksanaan konkret. Pemerintah daerah tidak ingin persoalan kembali muncul akibat kesepakatan yang berhenti pada forum pertemuan.

“Mudah-mudahan pertemuan ini menjadi komitmen yang harus tetap kita laksanakan, sehingga tidak terjadi lagi kesepakatan-kesepakatan seperti sebelumnya yang hanya sekadar kesepakatan, tetapi tidak jelas pelaksanaannya,” tegasnya.

Pesan tersebut memiliki konteks penting. Dalam hubungan masyarakat dan perusahaan, komunikasi yang tidak jelas dapat memunculkan persepsi berbeda. Sebaliknya, komunikasi terbuka dapat membantu setiap pihak memahami batas kepentingan dan tanggung jawab masing-masing.

Pasca Kerusuhan di Matarape, PT Askon Sampaikan Permohonan Maaf

Pihak perusahaan juga mengambil langkah penting dalam forum tersebut. Perwakilan PT Askon, Alexander Lieman, menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi beberapa hari sebelumnya.

Alexander menduga persoalan bermula dari kesalahpahaman komunikasi hingga kemudian berkembang menjadi baku hantam.

“Atas insiden yang terjadi beberapa hari lalu, yang mungkin berawal dari kesalahpahaman atau salah bicara hingga berujung pada baku hantam, kami minta maaf. Apa pun alasannya, kejadian itu seharusnya tidak terjadi,” ujar Alexander.

Alexander juga menegaskan keinginan perusahaan untuk mencegah kejadian serupa.

“Kami tidak mau (kejadian) itu terjadi dan tidak mau itu terulang lagi. Kami juga belajar, kami yang anak-anak muda ini diajari bapak ibu semua agar bisa lebih baik dan ke depannya menjaga komunikasi ini lebih baik lagi,” tuturnya.

Permintaan maaf tersebut menjadi bagian penting dari proses pemulihan hubungan. Namun, permintaan maaf saja belum cukup. Masyarakat tentu membutuhkan perubahan nyata dalam pola komunikasi dan pelaksanaan komitmen perusahaan.

Tuntutan Masyarakat Menjadi Bagian dari Titik Temu

Selain menyampaikan permohonan maaf, Alexander mengapresiasi tuntutan masyarakat yang muncul dalam pertemuan.

Perusahaan, menurut dia, ingin menjalankan aktivitasnya dengan baik sekaligus menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

“Tadi beberapa tuntutan masyarakat tentunya kita apresiasi dan kita hargai. Kita mau bekerja dengan baik dan menjadi bagian ekosistem di Matarape dan juga sekitarnya,” katanya.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan perusahaan dengan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan aktivitas bisnis. Di wilayah tempat perusahaan beroperasi, aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan komunikasi ikut menentukan keberlanjutan kegiatan.

Karena itu, keterlibatan masyarakat dalam pembahasan menjadi penting. Masyarakat membutuhkan ruang untuk menyampaikan aspirasi, sementara perusahaan membutuhkan kepastian agar kegiatan dapat berjalan secara tertib.

Alexander menilai proses dialog yang berlangsung bersama masyarakat dan Forkopimda Morowali telah menghasilkan titik temu.

“Tentu seperti yang disampaikan, kita sudah menemukan jalan tengahnya,” ujarnya.

Pasca Kerusuhan di Matarape, Kesepakatan Harus Terukur

Kesepakatan menjadi langkah awal. Tantangan berikutnya justru terletak pada pelaksanaannya.

Tahir menegaskan Pemerintah Kabupaten Morowali berharap kesepakatan tersebut mampu menjadi solusi bagi seluruh pihak.

“Harapan kita, kesepakatan ini menjadi solusi terbaik untuk semua pihak, bagi perusahaan, masyarakat, dan tentunya pemerintah juga mendukung hal-hal seperti ini,” tutup Tahir.

Pernyataan itu sekaligus menempatkan pemerintah sebagai pihak yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kepentingan. Pemerintah perlu memastikan komunikasi tetap terbuka, sementara masyarakat dan perusahaan perlu menjalankan komitmen masing-masing.

Dalam konteks pasca kerusuhan di Matarape, keberhasilan penyelesaian tidak hanya terlihat dari suasana yang kembali tenang. Ukuran yang lebih penting terletak pada konsistensi pelaksanaan kesepakatan.

Pertama, setiap poin kesepakatan perlu memiliki pihak yang bertanggung jawab. Kedua, pelaksanaannya membutuhkan batas waktu yang jelas. Ketiga, masyarakat perlu memperoleh ruang untuk memantau perkembangan. Selanjutnya, pemerintah dapat menjalankan fungsi pengawasan dan mediasi apabila muncul persoalan baru.

Dengan mekanisme tersebut, kesepakatan tidak berhenti sebagai dokumen atau pernyataan dalam forum. Sebaliknya, kesepakatan dapat menjadi instrumen untuk membangun kembali kepercayaan.

Jalan Tengah Membutuhkan Konsistensi Semua Pihak

Pertemuan di Matarape memberikan sinyal positif bagi penyelesaian persoalan antara masyarakat dan perusahaan. Permohonan maaf perusahaan, apresiasi terhadap tuntutan masyarakat, serta dukungan pemerintah membuka ruang untuk membangun hubungan yang lebih sehat.

Meski demikian, jalan tengah membutuhkan konsistensi. Masyarakat perlu menyampaikan aspirasi melalui jalur dialog dan mekanisme yang disepakati. Perusahaan perlu menjaga komunikasi serta memenuhi komitmen yang muncul dari pertemuan. Pemerintah pun perlu memastikan proses berjalan transparan dan tidak meninggalkan pihak yang berkepentingan.

Pada akhirnya, pasca kerusuhan di Matarape, pertanyaan terpenting bukan lagi siapa yang menang atau kalah. Pertanyaan yang jauh lebih penting ialah apakah kesepakatan mampu mengubah ketegangan menjadi komunikasi, konflik menjadi evaluasi, dan perbedaan kepentingan menjadi kerja sama yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta keberlanjutan aktivitas perusahaan.

Jika seluruh pihak konsisten menjalankan kesepakatan, jalan tengah yang ditemukan di Matarape dapat menjadi awal baru untuk membangun hubungan yang lebih terbuka, tertib, dan saling menghormati.

Simak juga: Aksi Pendudukan FNPBI Morowali di PT FreeNow Food Industry