“Kebesaran manusia tidak diukur dari seberapa tinggi ia berdiri, melainkan dari seberapa sedikit manusia yang harus merunduk karenanya. Tak perlu menjadi orang besar.”_Ghaff.
HALO MOROWALI, apa kabar? Di Catatan Halo Morowali kali ini, kita akan bicara sedikit tentang menjadi orang besar. Nah, Sejak kecil, kita belajar mengejar keberhasilan, iya kan? Namun, tak perlu menjadi orang besar jika pencapaian itu menuntut kita menginjak martabat manusia lain.
Sekolah mendorong kita meraih pendidikan tinggi. Dunia kerja mengajarkan kita mengejar jabatan. Pasar memuja kekayaan. Masyarakat kemudian mengukur keberhasilan melalui posisi, aset, dan pengaruh.
Semua itu tampak wajar. Namun, ada pertanyaan yang jarang muncul, mengapa sebagian orang dapat berdiri sangat tinggi, sementara sebagian lainnya harus terus berada di bawah?
Pertanyaan tersebut membawa kita pada persoalan yang lebih dalam. Seruput kopi dulu, kemudian kita lanjutkan.
Sama kita ketahui, keberhasilan tidak selalu lahir dari kerja keras semata. Struktur ekonomi, kepemilikan aset, akses pendidikan, kekuasaan, serta kesempatan ikut menentukan posisi seseorang.
Tidak semua manusia memulai kehidupan dari garis yang sama. Ada yang lahir dengan tanah dan modal. Ada pula yang lahir tanpa aset selain tenaga dan waktu.
Karena itu, kisah sukses individual tidak cukup untuk menjelaskan seluruh kenyataan sosial.
Tak Perlu Menjadi Orang Besar untuk Memahami Ketimpangan
Ada pernyataan yang sering kita dengar, bahwa siapa yang bekerja paling keras, maka dialah yang akan menjadi paling besar.
Siapa memiliki tanah? Siapa menguasai pabrik? Siapa memiliki mesin? Siapa mengendalikan perusahaan? Siapa menguasai modal? Dan siapa yang tidak memiliki semua itu?
Kelompok terakhir atau yang tidak memiliki apapun, harus menjual tenaga kerja agar dapat memenuhi kebutuhan hidup.
Di sinilah hubungan antara pemilik modal dan pekerja menjadi lebih kompleks.
Pekerja membawa waktu, tenaga, keterampilan, dan pikirannya ke dalam proses produksi.
Namun, ia tidak mengendalikan alat produksi tersebut. Ia menerima upah sebagai imbalan atas tenaga kerjanya. Pemilik modal kemudian mengendalikan produksi dan memperoleh keuntungan.
Pekerja menciptakan nilai dalam proses produksi. Sebagian nilai tersebut kembali kepada pekerja melalui upah. Sementara itu, pemilik modal memperoleh bagian lain sebagai keuntungan.
Kerja Keras Tidak Pernah Berdiri Sendiri
Kita sering mendengar nasihat sederhana, “Kalau ingin sukses, bekerja keras.”
Nasihat tersebut memiliki nilai positif. Namun, kita perlu menghindari kesimpulan bahwa kerja keras menentukan seluruh hasil kehidupan.
Dua orang dapat bekerja dua belas jam sehari. Namun, keduanya dapat memperoleh hasil yang sangat berbeda.
Seseorang mungkin bekerja untuk memperbesar aset yang sudah ia miliki. Orang lain bekerja hanya untuk membayar kebutuhan dasar keluarganya.
Pemilik aset dapat memperoleh pendapatan dari modal ketika ia tidur. Pekerja harus terus bekerja agar pendapatannya tetap mengalir.
Perbedaan tersebut menunjukkan satu hal penting, kerja keras memiliki konteks ekonomi. Modal, kepemilikan, pendidikan, jaringan, teknologi, dan posisi sosial ikut memengaruhi hasil kerja.
Karena itu, kita tidak boleh menggunakan kisah sukses seseorang untuk menghakimi seluruh kelompok masyarakat.
Kemiskinan tidak selalu menunjukkan kemalasan. Kekayaan juga tidak otomatis membuktikan keunggulan moral.
Baca juga: Lelang Ore Nikel Sitaan di Morowali Dipersoalkan, Kejelasan Proses Hukum Dipertanyakan
Ketika Kemiskinan Menjadi Kesalahan Pribadi
Masalah muncul ketika struktur sosial menghilang dari pembicaraan. Masyarakat kemudian melihat kemiskinan sebagai kegagalan individu.
Orang miskin mendapat pertanyaan: “Mengapa tidak bekerja lebih keras?” Namun, kita jarang bertanya tentang kualitas pekerjaan yang tersedia.
Mengapa upah tidak mencukupi kebutuhan dasar? Mengapa akses pendidikan berkualitas begitu berbeda? Mengapa kepemilikan aset terkonsentrasi? Mengapa sebagian keluarga terus mewariskan kekayaan? Mengapa keluarga lain terus mewariskan utang dan kerentanan?
Pertanyaan tersebut membuka persoalan yang lebih luas. Tempat seseorang lahir dapat memengaruhi peluang hidupnya. Akses pendidikan juga dapat menentukan kualitas pekerjaan.
Kepemilikan aset kemudian memperbesar peluang tersebut. Sebaliknya, ketiadaan aset dapat membuat seseorang semakin bergantung pada upah.
Karena itu, masyarakat perlu membedakan tanggung jawab pribadi dan kondisi struktural. Keduanya memang tidak sama.
Seseorang tetap memiliki tanggung jawab atas pilihannya. Namun, pilihan selalu berlangsung dalam kondisi tertentu.
Kekayaan Dapat Berubah Menjadi Kekuasaan
Kekayaan tidak hanya memberi kemampuan membeli barang. Kekayaan juga dapat memberikan daya pengaruh.
Pemilik modal besar memiliki kemampuan menentukan investasi. Mereka juga dapat memengaruhi produksi dan arah bisnis.
Dalam kondisi tertentu, kekuatan ekonomi dapat merembes ke ruang sosial dan politik. Di sinilah pertanyaan ekonomi berubah menjadi pertanyaan kekuasaan.
Siapa yang menentukan? Siapa yang mengambil keputusan? Siapa yang memperoleh manfaat? Siapa yang menanggung risikonya?
Sebuah proyek dapat menciptakan lapangan kerja. Namun, kita tetap perlu melihat kualitas pekerjaan dan distribusi manfaatnya.
Investasi dapat meningkatkan ekonomi. Tetapi masyarakat juga perlu memperoleh manfaat yang adil.
Perusahaan dapat memperoleh keuntungan. Pada saat yang sama, pekerja membutuhkan upah layak dan lingkungan kerja manusiawi.
Karena itu, pertumbuhan ekonomi tidak cukup jika hanya memperbesar angka. Kita juga harus melihat bagaimana hasil pertumbuhan tersebut terbagi.
Tak Perlu Menjadi Orang Besar: Manusia Jangan Berubah Menjadi Komoditas
Kapitalisme dapat memengaruhi cara manusia memandang dirinya sendiri. Nilai manusia kemudian mudah dikaitkan dengan harga.
Berapa gajinya? Berapa asetnya? Berapa besar rumahnya? Berapa mahal kendaraannya? Berapa banyak orang bekerja untuknya?
Pertanyaan semacam itu dapat mengubah ukuran keberhasilan. Manusia akhirnya mengejar angka.
Ia bekerja untuk mendapatkan uang. Kemudian ia membutuhkan lebih banyak uang. Kebutuhan tersebut mendorongnya bekerja lebih lama.
Siklus itu dapat terus berlangsung. Bekerja, memperoleh uang, membeli, membutuhkan lebih banyak uang, lalu kembali bekerja.
Dalam situasi tertentu, waktu hidup berubah menjadi waktu ekonomi. Manusia dapat kehilangan hubungan bermakna dengan pekerjaannya.
Ia dapat kehilangan kendali terhadap hasil kerjanya. Hubungan sosial juga dapat berubah menjadi hubungan transaksi.
Akhirnya, seseorang dapat memiliki banyak barang tetapi kehilangan waktu untuk menikmati kehidupan.
Ironisnya, ia bekerja keras untuk membeli kehidupan yang tidak sempat ia jalani.
Mengapa Kita Terobsesi Menjadi “Orang Besar”?
Pertanyaan tersebut membawa kita kembali kepada budaya keberhasilan. Mengapa kita menganggap posisi lebih tinggi sebagai tujuan utama?
Mengapa kekayaan harus selalu berarti memiliki lebih banyak daripada orang lain?
Mengapa jabatan harus menunjukkan keunggulan seseorang? Mengapa orang lain harus menjadi pembanding?
Budaya kompetisi dapat membuat manusia melihat sesamanya sebagai pesaing.
Teman berubah menjadi kompetitor. Pekerja berubah menjadi biaya. Masyarakat berubah menjadi pasar. Alam berubah menjadi bahan baku. Kehidupan kemudian berubah menjadi perlombaan.
Masalahnya, perlombaan tersebut tidak selalu memiliki garis awal yang sama. Sebagian orang berlari dengan modal besar. Sebagian lainnya berlari dengan beban berat.
Karena itu, kita perlu mengkritik gagasan bahwa semua orang memiliki peluang yang sama.
Pintu mungkin terbuka untuk semua orang. Namun, kemampuan mencapai pintu tersebut tidak selalu sama.
Kebesaran Seharusnya Tidak Menindas
Karena itu, kita perlu mengubah ukuran kebesaran. Jangan hanya bertanya: Berapa banyak yang kamu miliki?
Tanyakan juga berapa banyak manusia yang hidup lebih bermartabat karena keberadaanmu?
Jangan hanya bertanya berapa banyak orang bekerja untukmu? Tanyakan juga apakah mereka memperoleh bagian yang layak dari nilai yang mereka ciptakan?
Jangan hanya bertanya seberapa tinggi posisimu? Tanyakan pula Apa yang kamu lakukan ketika berada di atas?
Orang kaya tidak otomatis buruk. Pemilik perusahaan juga tidak otomatis menjadi penindas. Sebaliknya, pekerja tidak otomatis menjadi manusia tanpa tanggung jawab. Persoalannya terletak pada hubungan sosial dan ekonomi yang mereka jalani.
Sistem yang sehat harus memberi ruang bagi usaha. Namun, sistem tersebut juga harus melindungi martabat manusia.
Bukan Menghapus Perbedaan, Melainkan Mengurangi Penindasan
Manusia memiliki kemampuan, pilihan, dan hasil yang berbeda. Persoalannya muncul ketika perbedaan tersebut berubah menjadi penindasan.
Seseorang mungkin memiliki perusahaan. Namun, kepemilikannya tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan pekerja.
Seseorang mungkin memiliki jabatan. Namun, jabatan tidak boleh menjadi alasan untuk membungkam masyarakat.
Seseorang mungkin memiliki kekayaan. Namun, kekayaan tidak boleh menjadi alasan untuk membeli martabat orang lain.
Masyarakat yang adil bukan masyarakat tanpa perbedaan. Masyarakat adil ialah masyarakat yang mencegah kekuatan ekonomi berubah menjadi alat penundukan.
Jangan Bangga Berdiri di Atas Kepala Orang Lain
Pada akhirnya, kita harus memilih bentuk keberhasilan yang ingin kita kejar.
Kita boleh mengejar kekayaan. Kita boleh membangun perusahaan. Kita boleh mengejar jabatan. Kita boleh memiliki ambisi besar.
Tidak ada yang otomatis salah dari semua itu. Namun, cara mendapatkannya tetap penting. Kita juga perlu bertanya siapa yang menanggung biaya keberhasilan tersebut.
Jika sebuah perusahaan tumbuh melalui upah yang tidak layak, masalahnya bukan sekadar keuntungan.
Jika sebuah kekuasaan tumbuh melalui ketakutan, masalahnya bukan sekadar kepemimpinan.
Jika sebuah kekayaan tumbuh melalui penderitaan orang lain, masalahnya bukan sekadar kesuksesan.
Seseorang tidak menjadi besar hanya karena ia berdiri lebih tinggi. Ia menjadi besar ketika keberadaannya membuat orang lain mampu berdiri.
Di situlah ukuran keberhasilan mengalami perubahan. Kita tidak lagi bertanya seberapa banyak manusia berada di bawah kita. Kita mulai bertanya berapa banyak manusia dapat berdiri bersama kita.
Tak Perlu Menjadi Orang Besar dengan Mengorbankan Orang Lain
Kerja keras memang penting. Namun, kerja keras tidak bekerja dalam ruang sosial yang kosong.
Akses, modal, kepemilikan, pendidikan, dan struktur ekonomi ikut menentukan peluang manusia. Karena itu, masyarakat perlu melihat keberhasilan secara lebih kritis.
Kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang menciptakan manfaat luas. Kita membutuhkan perusahaan yang menghargai pekerja. Kita membutuhkan kekuasaan yang bertanggung jawab.
Kita juga membutuhkan budaya yang tidak mengukur harga manusia berdasarkan kekayaan.
Pada akhirnya, tak perlu menjadi orang besar jika kebesaran tersebut membutuhkan kepala manusia lain sebagai pijakan.
Lebih baik membangun keberhasilan yang memperluas kesempatan. Lebih baik menciptakan kekayaan yang memberi manfaat lebih luas.
Lebih baik memegang kekuasaan yang membuat manusia lain semakin merdeka.
Sebab kebesaran sejati bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri. Kebesaran sejati muncul ketika semakin sedikit manusia yang harus menundukkan kepala.
Pertanyaan akhirnya bukan lagi, “Bagaimana saya bisa naik?” Pertanyaan yang lebih penting adalah “Mengapa seseorang harus diinjak agar orang lain dapat naik?”
Jika kita ingin mengubah dunia, kita tidak cukup mengganti orang yang duduk di atas.
Kita harus memperbaiki struktur yang membuat sebagian manusia terus berada di bawah.
Sebab manusia bukan alat bagi akumulasi kekayaan. Manusia bukan sekadar angka dalam laporan keuntungan.
Manusia bukan tenaga kerja semata. Dan manusia tidak lahir untuk menjadi tangga bagi manusia lainnya.
Tak perlu menjadi orang besar jika untuk menjadi besar kita harus menginjak kepala orang lain.
Lebih baik menjadi bagian dari kehidupan yang memungkinkan semua manusia berdiri dengan kepala tegak.
Salam hangat segelas kopi dari saya Abd. Ghafur Halim.

