“Kemandirian desa tidak hanya terlihat dari bangunan, tetapi dari kemampuan mengubah potensi menjadi manfaat.”

 

BUMDes Jelita Sampeantaba Morowali menandai perkembangan usahanya dengan meresmikan kantor baru pada Selasa 18 Agustus 2026.

Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf meresmikan kantor tersebut langsung di Desa Sampeantaba, Kecamatan Witaponda.

Menariknya, BUMDes Jelita membangun kantor itu menggunakan hasil usaha yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun.

Karena itu, kantor baru tersebut memiliki makna lebih besar daripada sekadar fasilitas administrasi.

Bangunan itu menunjukkan kemampuan lembaga ekonomi desa mengelola usaha secara konsisten.

BUMDes Jelita Sampeantaba Morowali Tunjukkan Kemandirian

Iksan mengapresiasi keberadaan kantor baru tersebut. Menurutnya, kantor yang berdiri terpisah dari ruangan lain menunjukkan perkembangan kelembagaan BUMDes.

Apalagi, pengelola menggunakan hasil usaha sendiri untuk membangun fasilitas tersebut. Capaian itu memperlihatkan satu hal penting.

BUMDes dapat tumbuh tanpa terus bergantung pada dukungan modal dari pemerintah.

Namun, kemandirian membutuhkan pengelolaan usaha yang disiplin. Pengelola juga perlu menjaga arus kas, memperluas pasar, serta membaca kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, keuntungan usaha tidak berhenti sebagai angka dalam laporan.

Sebaliknya, keuntungan dapat kembali menjadi modal pengembangan kelembagaan.

Kantor kemudian berfungsi sebagai pusat pengelolaan, pelayanan, sekaligus simbol pertumbuhan ekonomi desa.

Tiga Usaha Menjadi Modal Pengembangan

BUMDes Jelita saat ini mengelola tiga bidang usaha utama. Pertama, usaha simpan pinjam yang menyasar kebutuhan pembiayaan masyarakat.

Kedua, persewaan kursi dan tenda untuk mendukung berbagai kegiatan warga. Ketiga, program ketahanan pangan melalui pengelolaan kolam ikan air tawar.

Pola tersebut menunjukkan strategi diversifikasi usaha. BUMDes tidak menggantungkan pendapatan pada satu jenis kegiatan saja.

Diversifikasi juga dapat membantu mengurangi risiko ketika salah satu usaha mengalami penurunan permintaan.

Namun, setiap unit tetap membutuhkan perhitungan usaha yang jelas. Pengelola perlu mengetahui biaya, pendapatan, keuntungan, risiko, serta potensi pengembangannya.

Selain itu, evaluasi berkala dapat membantu BUMDes menentukan usaha yang paling produktif.

Langkah tersebut penting agar pertumbuhan usaha tidak hanya terlihat dari bertambahnya aset.

Membuka Akses BUMDes ke Dunia Industri

Iksan juga mendorong BUMDes Jelita memperluas jaringan usaha melalui kerja sama dengan industri.

Peluang tersebut dapat membuka pasar baru bagi produk maupun jasa BUMDes. Pemerintah, menurut Iksan, dapat membantu membuka akses pasar bagi usaha desa.

BUMDes kemudian dapat mengambil peran sebagai pemasok atau supplier bagi industri.

Skema itu menawarkan peluang yang lebih besar daripada sekadar mengandalkan konsumen lokal.

Jika berjalan konsisten, BUMDes dapat masuk ke rantai pasok bisnis yang lebih luas.

Namun, peluang tersebut juga membawa tantangan. Industri biasanya membutuhkan kualitas, volume, kontinuitas, dan ketepatan waktu.

Karena itu, BUMDes perlu memperkuat kapasitas sebelum mengejar kontrak berskala besar.

Standar produk harus jelas. Administrasi juga harus tertib. Kemampuan memenuhi pesanan pun harus terukur.

Dengan persiapan tersebut, kerja sama industri dapat berkembang menjadi kemitraan jangka panjang.

Kantor Baru Harus Menghasilkan Nilai Baru

Peresmian kantor tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Fasilitas baru perlu mendorong peningkatan kualitas pengelolaan BUMDes.

Pengelola dapat memanfaatkan kantor untuk memperbaiki administrasi, pelayanan, dan pencatatan keuangan.

Selain itu, kantor dapat menjadi ruang untuk menyusun strategi pengembangan usaha. Data usaha juga perlu menjadi dasar dalam mengambil keputusan.

Dengan cara tersebut, BUMDes dapat bergerak dari pola pengelolaan sederhana menuju tata kelola profesional. Manfaat akhirnya harus kembali kepada masyarakat.

BUMDes perlu membuka akses ekonomi, menciptakan peluang usaha, serta memperkuat perputaran uang di desa.

Karena itu, keberhasilan BUMDes seharusnya tidak hanya mengukur besarnya aset. Dampak terhadap masyarakat juga menjadi indikator penting.

Dari Hasil Usaha Menuju Kemitraan Lebih Luas

Iksan meresmikan kantor tersebut setelah menghadiri agenda pemerintahan lainnya di Kecamatan Witaponda.

Sebelumnya, ia meresmikan Unit Pelayanan Administrasi Kependudukan dan membuka Kompetisi Olahraga.

Setelah itu, Bupati meluangkan waktu menghadiri peresmian kantor BUMDes Jelita.

Rangkaian acara kemudian berlanjut dengan pengguntingan pita. Iksan juga menandatangani prasasti kantor BUMDes Jelita.

Bupati bersama sejumlah pihak berdiskusi sambil menikmati hidangan onde-onde.

Meski sederhana, momen tersebut memperlihatkan hubungan antara pemerintah dan pengelola ekonomi desa.

Pelaksanaan kegiatan berlangsung aman dan tertib dan dihadiri langsung oleh Kapolsek Witaponda, Iptu Armawansyah.

Lebih jauh, peresmian kantor membawa pesan tentang pentingnya kemandirian ekonomi.

BUMDes Jelita telah menggunakan hasil usaha untuk membangun aset kelembagaan.

Tahap berikutnya menuntut pengelola menghasilkan pertumbuhan yang lebih besar.

BUMDes Jelita Sampeantaba Morowali kini memiliki kantor baru yang lahir dari hasil kerja usahanya sendiri.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa usaha desa dapat membangun aset melalui pengelolaan yang konsisten.

Tiga bidang usaha memberi fondasi bagi diversifikasi pendapatan dan pelayanan masyarakat.

Selanjutnya, peluang kerja sama dengan industri dapat membuka pasar yang lebih luas.

Namun, BUMDes perlu memperkuat tata kelola, kualitas layanan, kapasitas produksi, serta administrasi.

Pada akhirnya, kantor baru bukan tujuan akhir. Bangunan itu menjadi titik awal bagi BUMDes Jelita untuk memperbesar manfaat ekonomi bagi masyarakat Sampeantaba.

Simak juga: Kopi Moroa, Kopi Asli Morowali