“Saya hanya ingin memberitahu suatu kejadian, kalau sekarang belum terlihat karena saat kita latihan tidak banyak orang. Tapi saat hari H nanti akan ada semua masyarakat Morowali, bahkan Indonesia ini melihat. Karena itu, di sana mental yang kuat diperlukan. Jadi betul-betul harus dipersiapkan mental itu,”_Iksan Baharudin Abdul Rauf. 

 

BUPATI Morowali ingatkan Paskibraka agar membangun kesiapan mental sebelum menjalankan tugas kenegaraan pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf menilai mental memiliki peran penting.

Menurutnya, kemampuan fisik dan teknis saja belum cukup. Paskibraka akan menghadapi situasi berbeda ketika upacara berlangsung.

Jumlah masyarakat yang hadir juga akan jauh lebih banyak. Bahkan, perhatian publik dapat meningkatkan tekanan bagi setiap anggota.

Bupati Morowali Ingatkan Paskibraka soal Tekanan Hari H

Iksan menyampaikan pesan tersebut setelah pengukuhan anggota Paskibraka Kabupaten Morowali, Jumat 14 Agustus 2026.

Ia meminta para anggota memahami perbedaan antara latihan dan pelaksanaan sebenarnya. Latihan berlangsung dalam suasana yang relatif terkendali.

Sebaliknya, pelaksanaan upacara menghadirkan banyak mata yang memperhatikan.

Situasi tersebut dapat memengaruhi konsentrasi jika anggota tidak menyiapkan mental.

“Saya hanya ingin memberitahu suatu kejadian, kalau sekarang belum terlihat karena saat kita latihan tidak banyak orang. Tapi saat hari H nanti akan ada semua masyarakat Morowali, bahkan Indonesia ini melihat. Karena itu, di sana mental yang kuat diperlukan. Jadi betul-betul harus dipersiapkan mental itu,” ujar Iksan.

Pesan tersebut menunjukkan satu hal penting. Paskibraka tidak hanya menjalankan rangkaian gerakan yang sudah mereka latih.

Mereka juga membawa tanggung jawab simbolik dalam upacara kemerdekaan. Karena itu, ketenangan menjadi bagian penting dari kesiapan mereka.

Bupati Morowali Ingatkan Paskibraka: Mental Menentukan Respons Saat Situasi Tak Terduga

Iksan juga mengingatkan potensi munculnya kejadian yang tidak terduga. Situasi kecil sekalipun dapat mengganggu konsentrasi apabila anggota kehilangan kendali.

Pada tahun sebelumnya, misalnya, perlengkapan sempat mengalami masalah ketika anggota bertugas.

“Seperti tahun lalu sempat ada kejadian-kejadian yang tidak terduga, seperti kaos kaki jatuh dan sebagainya. Makanya harus dipersiapkan,” katanya.

Contoh tersebut terlihat sederhana. Namun, anggota harus mampu merespons gangguan tanpa mengorbankan tugas utama.

Ketenangan membantu anggota mempertahankan fokus ketika situasi berubah.

Selain itu, kesiapan mental juga membantu anggota mengelola rasa gugup.

Tekanan perhatian publik dapat memunculkan kekhawatiran melakukan kesalahan. Karena itu, anggota perlu membangun kepercayaan diri sejak masa latihan.

Bupati Morowali Ingatkan Paskibraka untuk Menguatkan Konsentrasi

Persiapan mental membutuhkan latihan yang konsisten. Anggota dapat melatih fokus melalui simulasi suasana upacara secara bertahap. Pelatih juga dapat menciptakan kondisi yang mendekati situasi pelaksanaan.

Dengan demikian, anggota terbiasa menghadapi tekanan sebelum hari pelaksanaan.

Simulasi juga dapat membantu anggota mengenali respons tubuh ketika gugup. Misalnya, detak jantung dapat meningkat saat perhatian publik semakin besar.

Dalam kondisi tersebut, anggota perlu mengatur pernapasan dan menjaga fokus.

Kemudian, mereka harus tetap mengikuti instruksi sesuai prosedur. Pendekatan tersebut membuat kesiapan mental berjalan bersama kemampuan teknis.

Risiko Jika Kesiapan Mental Paskibraka Terabaikan

Kekurangan kesiapan mental dapat membawa sejumlah risiko. Pertama, anggota bisa kehilangan konsentrasi ketika menghadapi gangguan kecil.

Kedua, rasa gugup dapat memengaruhi koordinasi gerakan. Ketiga, kesalahan kecil dapat berkembang menjadi gangguan dalam rangkaian tugas.

Namun, risiko tersebut tidak perlu menimbulkan kecemasan berlebihan. Justru, anggota perlu memandang setiap kemungkinan sebagai bagian dari proses belajar.

Pelatih juga memiliki peran penting dalam membangun lingkungan latihan yang suportif.

Pendekatan tersebut dapat mengurangi tekanan sekaligus meningkatkan keberanian. Selain itu, komunikasi antara pelatih dan anggota perlu berjalan terbuka.

Anggota harus merasa aman untuk menyampaikan kesulitan selama menjalani latihan. Dengan begitu, tim dapat menemukan solusi sebelum pelaksanaan berlangsung.

Kesiapan Mental Membentuk Paskibraka yang Percaya Diri

Tugas Paskibraka memiliki nilai lebih daripada sekadar prosesi upacara. Anggota membawa simbol disiplin, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kemerdekaan.

Karena itu, setiap anggota perlu memahami makna tugas yang mereka jalankan. Pemahaman tersebut dapat memperkuat motivasi ketika menghadapi tekanan.

Selanjutnya, rasa percaya diri akan tumbuh melalui latihan yang terarah. Kedisiplinan juga membantu anggota menjaga konsistensi sampai hari pelaksanaan.

Pada akhirnya, persiapan mental tidak berdiri sendiri. Kemampuan fisik, penguasaan teknis, disiplin, konsentrasi, dan mental harus berjalan bersama.

Kombinasi tersebut menjadi modal penting untuk menjalankan tugas secara optimal.

Bupati Morowali ingatkan Paskibraka bahwa kesiapan mental sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

Pesan Iksan menekankan pentingnya ketenangan ketika anggota menghadapi perhatian publik.

Kejadian kecil juga dapat muncul tanpa peringatan selama pelaksanaan upacara. Karena itu, anggota perlu menghadapi kemungkinan tersebut melalui latihan dan simulasi.

Pelatih dapat memperkuat kesiapan dengan menciptakan suasana latihan yang realistis. Sementara itu, anggota perlu menjaga disiplin, fokus, dan kepercayaan diri.

Dengan persiapan menyeluruh, Paskibraka Morowali dapat menjalankan tugas secara lebih tenang.

Mereka juga dapat menjaga kehormatan tugas dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Simak juga: Dari Absensi ke Prestasi, Reformasi TPP di Morowali, Mungkinkah? 

Pesan Bupati Morowali ingatkan Paskibraka akhirnya bermuara pada satu prinsip.

Mental yang kuat membantu seseorang tetap tenang ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.***